PARA PIMPINAN DPR-RI

Pak Bahtra bersama Sejumlah Pimpinan DPR-RI

JUBIR PARTAI GERINDRA

Sebagai Juru Bicara Partai Gerindra, Bahtra Banong Menjelaskan Reposisi MBG Setelah Ketua BGN yang Baru

PENGAWASAN DPR UNTUK MBG

Penjelasan Juru Bicara Partai Gerindra Penjelasan di Media

SERANGKAIAN PERTEMUAN FORMAL

Kunjungan Kerja ke Sulawesi Tengah

TOKOH MUDA SULTRA

Menjadi Inspirator bagi Banyak Kaum Muda dalam Pendidikan Politik Indonesia

Selamat Datang di Pusat Literasi Jejak-Jejak Kinerja Bahtra Banong

Jumat, 26 Juni 2026

Presiden Menitip Masa Depan Anak-Anak Indonesia Melalui MBG

Pada Talk Show Sapa Indonesia Malam Kompas TV, dimana presenter menanyakan bagaimana tolok ukur dari program MBG ini ? Lalu bagaimana tata kelolanya menurut anda, Jubir Partai Gerindra Bahtra Banong.

Berikut kutipan penjelasan Anggota DPR-RI dari Dapil Sultra, Bahtra Banong, via link https://www.youtube.com/live/DOOrIxw5xOw?si=ib_8ZW3ac4WbIP0O, “Saya pikir ini kan dari waktu ke waktu terus dilakukan evaluasi, terutama dengan kejadian kemarin, dimana tentu Pak Presiden sudah menginstruksikan dengan jelas bahwa dengan adanya peristiwa-peristiwa yang kita anggap ada tata kelola yang kurang baik, terus kemudian penerima manfaat yang dianggap belum tepat sasaran, terus kemudian soal rerekofusion program ini dilakukan, tentu pasti ada juga penyesuaian-penyesuaian anggaran yang pada akhirnya nanti bisa dilakukan atau berefek kepada penghematan anggaran,” katanya.

Menurutnya, sekarang ini sudah dilakukan semua, dalam rangka menjalankan instruksi Presiden, terus kemudian Kepala BGN yang baru. “Kalau kita lihat, positif sekali, apalagi Wakil Kepala BGN sudah mengumumkan bahwa pada saat libur sekolah dihentikan sementara waktu, terus kemudian, rekofusion programnya, terutama soal penerima manfaat, lebih fokus lagi kepada betul-betul daerah yang kita kategorikan 3T atau daerah-daerah yang benar-benar memang membutuhkan MBG ini,” terangnya.

Presenter mempertanyakan bahwa setelah dengan posisi dari pejabat yang baru, dan setelah ada pembenahan saat ini. Tapi kalau Anda lihat dari satu setengah tahun sebelumnya saat masih dijabat Dadan, yang tersangka dalam kasus tata kelola ini. Lalu, Anda melihat juga ada hal yang sama, ada perencanaan yang tidak matang di situ.

“Ya, pemerintah kan terus melakukan pembenahan dari waktu ke waktu. Saya pikir Pak Presiden tidak tinggal diam. Tentu Pak Presiden banyak sekali melakukan, evaluasi-evaluasi terkait dengan, hal ini,  seperti keberadaan program strategis ini,” jelasnya.

Bahtra menilai, tentu pasti yang namanya wajah depan program pemerintah pusat pasti selalu dimonitoring, pasti selalu dievaluasi dari waktu ke waktu. Dan itu jugalah yang membuat pada akhirnya Presiden mengambil keputusan, kesimpulan, untuk memberhentikan ketiga pimpinan BGN itu.

 “Karena itu sudah dilakukan evaluasi dari waktu ke waktu. Jadi semua sejalan dengan apa yang menjadi keinginan dan kehendak Presiden.  Pak Presiden menginginkan bahwa program ini harus betul-betul terlaksana dan tercapai dengan tepat sasaran, tepat guna, pengelolaan yang tidak ada penyimpangan, pengelolaan dikorupsi sana-sini. Atau, pengelolaan yang jujur sehingga program strategis betul-betul dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat, terutama yang betul-betul membutuhkan,” pintanya.

Presenter “Oke. Nah, ini ada pernyataan dari Pak Luhut juga bilang begini, "Kenapa harus sekaligus? Kan bisa dibikin secara bertahap ?

Ada pernyataan dari Pak Luhut seperti tadi, menurut Anda (Bahtram red) harus ada prioritas kelompok orang-orang tertentu yang harus jadi perhatian awal dari program MBG ini, atau karena kan yang belakangan juga muncul ?

"Dahulukan 3T dulu, atau ada kelompok tertentu yang harus jadi prioritas untuk MBG ini biar tepat sasaran itu tadi?”

Bahtra menjelaskan awalnya program ini hasil riset Presiden Prabowo, melalui perjalanan keliling ke daerah-daerah. “Beliau menyaksikan banyak sekali anak-anak sekolah kita, terutama yang mungkin masih berkekurangan, sehingga pak Presiden menyaksikan anak-anak di daerah,” katanya.

Maka dari itu program ini, kata Bahtra diagendakanlah. “Terus kemudian menjadi program strategis pemerintah pusat yang dipimpin oleh Pak Prabowo. Jadi saya pikir ini program tentu tujuannya baik, ya, tujuannya mulia, terus kemudian, program ini terutama daerah-daerah yang betul-betul membutuhkan,” terusnya.

Bahwa lanjutnya dalam perjalanannya kemudian bahwa ada penyimpangan di sana,  tentu ada tata kelola yang kurang tepat. Ini semua yang harus diperbaiki supaya kembali ke substansi awal program ini. “Jadi Pak Prabowo kan kepengin bahwa semua masyarakat Indonesia, terutama ya anak-anak kita, begitu pun target penerimanya yang lain yangbukan hanya anak-anak,” katanya.

Purtra Sulawesi ini juga mencontohkan, ada balita, ada ibu hamil, semua ini penerima manfaat MBG. “Jadi Pak Prabowo betul-betul ingin agar manusia Indonesia di masa depan itu unggul. Nah makanya itu diberesin dari hulunya supaya nanti produk kita di masa depan, daya saing anak-anak kita juga makin baik. Oke, dan itu semua yang harus dilakukan melalui program, yang tentu lebih tepat sasaran,” kuncinya. (ancha)

Rabu, 17 Juni 2026

Bahta Banong : "Kebijakan Efesiensi Pak Prabowo Berdampak Luas Perbaikan Ekonomi Bangsa"

Dalam sebuah wawancara di Berita Satu, dimana Jubir Partai Gerindra, Bahtra Banong diminta pendapatnya soal beberapa permasalahan nasional termasuk diantaranya dana transfer ke daerah.

“Terkait dengan dana transfer, kami ini menegaskan bahwa kami bersama Kemendagri, dimana setiap penyusunan APBD itu memang selama ini dilakukan pendampingan oleh Kemendagri, dan setelah dilakukan pendampingan, memang banyak sekali program-program, kerja yang tidak semestinya, terus kemudian itulah yang diplototin oleh pemerintah pusat,” ungkapnya.

Akhirnya, bahwa begitu dipotong dana transfernya, terus kemudian, diplototin program kerjanya, ternyata bisa dilakukan efisiensi, dan memang banyak yang tidak tepat sasaran. Jadi faktanya seperti itu.

Jadi banyak sekali daerah menyusun program kerjanya, tentu melalui APBD ditemukan fakta-fakta bahwa memang perlu tidak efesien. Nah inilah yang diperbaiki, bahwa memang ada daerah yang ketergantungan TKD-nya sangat besar sama pemerintah pusat, tetapi itu juga akan dicarikan solusi, tidak serta-merta dipotong begitu saja.

“Nah, itulah yang terus dilakukan oleh pemerintah pusat, ya, bahwa dalam penyusunan APBD, baik itu kabupaten / kota begitupun provinsi. Kalau kita benar-benar menyusun mana yang menjadi prioritas, yang mana yang tidak perlu, maka insya Allah pasti akan sebenarnya tidak jadi problem,” urainya.


Untungnya Presiden telah melakukan antisipasi. “Coba seandainya Pak Prabowo tidak melakukan efisiensi di sejak awal pemerintahan. Lalu tiba-tiba situasi global yang melanda kita, seperti hari ini, bagaimana geopolitik, bagaimana geoekonomi, maka saya akan memastikan bahwa mungkin akan lebih parah lagi,” terangnya.

Nah, maka dari itu perlu disyukuri, punya pemimpin seperti Prabowo yang punya visi atau bacaannya ke depan lebih maju sehingga bisa memprediksi situasi-situasi itu.

“Karena jauh-jauh sebelumnya Pak Prabowo sudah mengatakan bakalan ada perang Teluk, yang kemudian kita tidak melakukan efisiensi sejak awal, maka itu akan lebih memperparah situasi kita,” sambungnya,

Kemudian, memang tantangannya tidak mudah, karena tantangan-tantangan yang dihadapi adalah bukan hanya faktor internal, tapi faktor eksternal juga yang begitu kuat. “Kita tahu bahwa situasi global yang tidak pasti ini, itu semualah yang mempengaruhi, sehingga bangsa kita kan tidak berdiri sendiri. Insya Allah pemerintah bekerja sekuat tenaga, untuk kemudian menyelesaikan masalah satu per satu,” katanya.

Bahtra mencontoh, coba agak flashback sedikit, beberapa hari yang lalu, banyak sekali yang mengkritik terkait soal pelemahan rupiah, terus kemudian bagaimana IHSG, merosot jauh, “dan alhamdulillah, ya, beberapa hari ini dengan perbaikan-perbaikan yang tentu dilakukan oleh pemerintah, akhirnya apa yang kita lihat bahwa hasilnya juga maksimal,  seperti nilai tukar kita juga sudah jauh di bawah Rp 18.000,” nilainya.

 Jadi, marilah bersama-sama terus melakukan pernbaikan-perbaikan, mendukung kinerja Presiden yang tak henti-hentinya bekerja demi bangsa. “Alhamdulillah, perlahan-lahan mulai membaik, dan bahkan sempat 3 hari terakhir kemarin ribonnya sangat jauh. Artinya apa? Eh, insya Allah pemerintah akan terus bekerja maksimal,  termasuk tuntutan teman-teman dan mahasiswa,” kuncinya. (*)

Selasa, 16 Juni 2026

Bhatra : "Pak Prabowo Kompromi, Mengundang Tokoh-Tokoh Nasional untuk Dialog"

Dalam Talkshow Prime Plus CNN Indonesia dengan Tema ‘Mahasiswa Bergerak, Pemerintah Diminta Merespon Tuntutan’ yang dipandu oleh Herlambang, dimana seiring menghangat demonstrasi-demonstrasi yang terjadi di beberapa kota, maka sejumlah narasumber yang hadir diantaranya adalah Fatimah Az-zahra (perwakilan mahasiswa),  Ahman Irawan - Anggota DPR-RI / Fraksi Golkar,

Feri Amsari (Pakar Hukum Tata Negara), Agus Baskoro (Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis),

Anugrah Prahasta :Kepala RND Transmedia Sosial, serta Bahtra Banoing (Jubir Partai Gerindra), pada canal https://www.youtube.com/live/klZTekHNFF8

Dimana ditanya bagaimana sikap Presiden terhadap tuntutan mahasiswa yang semakin memanas ini, maka Bahtra Banong memberikan penjelasan diantaranya adalah pada sikap saling menghormati perbedaan pandangan masing-masing pihak, baik yang berada pada posisi pemerintah dan legislative, maupun pada akademisi, mahasiswa dan lainnya.

“Partai Gerindra yang kebetulan Ketua Umum kami juga Presiden Prabowo Subianto, tentu kami menghormati, menghargai setiap pendapat, penyampaian aspirasi, baik itu dari teman-teman atau adik-adik mahasiswa, begitu pun berbagai kelompok elemen. “ simpatinya.

Ia mengakui bahwa penghargaan itu tetap dalam bingkai demokrasi. “Artinya setiap menyampaikan pendapat di muka umum itu diperbolehkan, dan diatur oleh undang-undang. Dan itu juga menurut hemat kami, bahwa menjadikan bahwa ini dalam rangka agar bisa mengontrol program-program pemerintah supaya bisa lebihtepat sasaran lagi, supaya bisa lebih jangkauannya lebih tepat, esuai dengan apa yang dimau oleh Presiden Prabowo, yang juga kemauan rakyat,” ungkapnya.

Ditanya, yang dimau Presiden atau apa yang dibutuhkan masyarakat sebetulnya dalam hidup?. “Ya, tentu Pak Presiden bekerja untuk kepentingan masyarakat. Jadi Pak Prabowo kan konsisten,  jauh sebelum jadi presiden, beliau juga selalu mengingatkan kepada kami, kader-kader Gerindra agar bekerja untuk dan kepada Masyarakat,” lanjutnya.

“Jadi pikir itu sesuatu yang yang baik ya,” serunya.

 Lalu, :kami berterima kasih kepada mahasiswa, itu adalah bentuk kecintaan mahasiswa terhadap pemerintah. Dan saya pikir kita juga pernah jadi mahasiswa, dan ketika kita juga mahasiswa pasti melakukan hal yang sama, untuk kemudian terus mengingatkan pemerintah agar di jalur yang benar, di rel yang benar, sehingga betul-betul kita bisa pantau program kerja pemerintah tersebut,” terangnya.

Oke, berarti artinya masukan kritikan dari teman-teman mahasiswa menjadi rasional hari ini untuk segala program unggulan Pak Prabowo? Iya, bahwa kemudian, eh, masukan dari berbagai pihak ya, tentu kan, eh, kalau kita berbeda pandangan, ini kan negara kita negara demokrasi, bahwa perbeda pandangan itu ya sesuatu yang, eh, lumrah saya pikir ya, dan itu adalah sesuatu keniscayaan. Artinya kita boleh berbeda pandangan, berbeda pendapat, tetapi juga kan, eh, de- kualitas demokrasi kita juga harus makin baik, dan itu dibuktikan oleh teman-teman mahasiswa. Misalnya hari ini tidak ada yang, apa namanya, anarkis, begitu pun aparat kita ya, saya lihat juga makin, makin persuasif dan tidak ada yang melakukan, eh, tindakan represif te- terhadap, apa namanya, mahasiswa kita. Nah, itu, itu dulu yang patut kita syukuri, bahwa di sana ada pertentangan pandangan, ada pertentangan pendapat, eh, ya silakan berbeda pendapat, silakan berbeda pandangan, dan tentu juga itu akan menambah, apa namanya, kualitas demokrasi kita juga makin baik.

Oke, saya ingin dalam medisi. Dan pemerintah juga tentu ya, dalam menjalankan program kerjanya tentu juga punya alasan-alasan. Terus kemudian misalnya Pak Prabowo punya program, program strategis nasional seperti yang kita lihat hari ini, misalnya, eh, program, eh, makan, eh, bergizi, eh, gratis. Karena kan kalau kita lihat ya ini adalah program yang sangat baik, sangat bagus, sangat mulia, ya, betul-betul Pak Prabowo ingin bagaimana meni tidak hanya meningkatkan gizi anak-anak kita, tidak hanya meningkatkan gizi generasi kita, tapi di sana juga bagaimana memperbaiki kualitas sumber daya manusia kita. Oke, saya masuk ke situ, Bang. Jadi kalau kemudian kritik soal MBG itu dianggap berbeda pandangan saja, beda cara pandang saja, atau kemudian memang harus ada yang diperbaiki tata kelolanya?

BGN dan MBG

Berikut penjelasanya Angogta DPR-RI Dapil Sultra, Bahtra Banong yang ditulis secara tutur.


Berdasarkan fakta-fakta, realita, bahwa harus ada yang diperbaiki di sana, saya pikir juga pemerintah tidak menutup mata. Dan faktanya hari ini,  dan berdasarkan kritikan teman-teman hari ini, termasuk juga mungkin Bang Feri (Feri Amsari, red) yang sering senantiasa mengingatkan pemerintah.

Pak Presiden juga tidak buta dengan kritikan, tidak anti dengan kritikan. Berdasarkan masukan dari publik, masyarakat, begitu pun dengan DPR. Itu juga menjadi alasan beliau (Presiden, red) misalnya melakukan pencopotan terhadap kepala BGN atau pimpinan BGN.

Jadi saya pikir penting ya, saling memberi masukan, memberi kritikan, dan kalau itu dianggap, ob- objektif, rasional, tentu juga pemerintah tidak akan buta terhadap kritikan itu. Dan boleh jadi, itu juga bisa dijadikan alasan kemudian pemerintah mengambil kebijakan.

Dan faktanya hari ini ya, kita lihat Pak Prabowo, seringkali misalnya mengundang para tokoh-tokoh kita yang dianggap punya pengalaman, yang dianggap punya para profesional, baik yang seirama dengan pemerintah, begitu pun tokoh-tokoh kita yang kita anggap kritis. Misalnya terakhir kita lihat misalnya Pak JK (Jusuf Kalla, red), ya selama ini kan Pak JK kritis, dan kritik terhadap pemerintahan, terutama di wilayah ekonomi. Tetapi kemudian Pak JK berdiskusi dengan Pak Presiden terkait soal ekonomi.

Bayangkan misalnya, sekarang hampir 30.000 dapur yang berjalan, berapa banyak bahan baku yang dibutuhkan? Berapa banyak peternak kita yang bisa hidup dari diambil dari bahan bakunya di situ? Berapa banyak petani kita yang bisa diambil bahan bakunya di situ? Berapa banyak nelayan kita kalau yang juga ikannya dari mereka.

Misalnya di kampung saya di Sulawesi Tenggara, karena kita sebagian besar pulau-pulau di sana, lauknya sebagian besar diambil oleh nelayan-nelayan kita, apakah itu tidak menghidupkan UMKM kita?

Dan inilah yang dikehendaki oleh Pak Prabowo dalam situasi global yang tidak pasti ini. Kita pernah punya pengalaman bahwa begitu kita krisis tahun '98, bukankah UMKM yang menyelamatkan kita? Maka dari itu, MBG ini tidak bisa dilihat hanya satu perspektif saja.

MBG ini kalau berjalan dengan maksimal, selain bisa menopang pertumbuhan ekonomi daerah, dia juga bisa menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Berarti kalau dihentikan, mudhorotnya akan lebih banyak, menurut Gerindra?

Perspektif kami, ya, bahwa MBG ini manfaatnya sangat banyak. Mohon maaf, saya mau cerita sedikit. Singkat. Ke adik-adik mahasiswa. Mungkin, mungkin beliau karena tinggal di kota, ya. Kami yang tinggal di kampung Sulawesi Tenggara sana, di pulau sana, bayangkan, adik-adik kita berangkat ke sekolah menggunakan perahu. Tanpa mereka makan (sarapan, red), mereka sampai di sekolah dalam kondisi perut lapar. Mana mungkin mereka bisa belajar dengan baik?

Mana mungkin mereka bisa berkonsentrasi di sekolah kalau berangkat ke sekolah dalam kondisi lapar? Mungkin iya bagi orang-orang kota tidak ada masalah, tapi bagi kami, orang-orang yang di kampung, yang di pelosok sana, sangat membutuhkan program MBG ini.

Kemudian, karena tidak pernah ada dalam sejarah anak-anak kita diberi makan. Misalnya kita lihat, di daerah-daerah pelosok, banyak sekali anak-anak kita yang tidak mampu. Belum lagi kita bicara baru satu program, ya, kita bicara MBG, belum kita bicara soal bagaimana sekolah rakyat. (*)

Senin, 15 Juni 2026

Bahtra : "Presiden Prabowo Selalu Menghargai Perbedaan Pendapat"

Dalam Talkshow di Berita Satu dengan tajuk Demo Mahasiswa Protes Kebijakan Ekonomi, salah satu narusmber yang dimintai tanggapannya Adalah Jurub Bicara Partai Gerindra, Bahtra Banong. Untuk pertanyaan adalah Bang Batra saya ingin masuk langsung kepada substansinya soal program Juber Dana Jumbo, program prioritas yang diusung oleh Presiden Prabowo. Nah, ini menjadi sorotan karena agak kontradiksi nih dengan semangat efisiensi yang terus digaungkan. Boleh disampaikan nih, Bang Batra, bagaimana sebenarnya evaluasi yang dilakukan oleh Gerindra sebagai partai presiden atas program yang terus dikritik, tetapi sampai dengan saat ini belum ada hasil nyatanya dari kritik tersebut?

Berikut disampaikan secara tutur.

Saya ingin menyampaikan bahwa, apa yang dilakukan oleh adik-adik mahasiswa ini, itu bagian dari, demokrasi karena memang sistem negara kita mengatur sistem demokrasi.

Maka dari itu, penyampaian aspirasi, penyampaian pendapat di muka umum, diperbolehkan dan sah-sah saja. Itu juga, pemerintah saya pikir selalu, di bawah Presiden Prabowo menyampaikan bahwa selalu menghargai adanya oposisi ataupun perbedaan pandangan. Karena itu baik buat negara kita, terutama dalam rangka untuk terus mengingatkan pemerintah agar ada kontrol, terhadap program-program pemerintah, terutama program yang prokerakyatan.


Nah, yang kedua, saya juga ingin menyampaikan, rasa terima kasih kepada teman-teman mahasiswa yang sampai hari ini sudah, mulai dari beberapa hari kemarin terus hari ini juga melaksanakan demonstrasi.

Dan kita lihat bahwa Alhamdulillah tidak terjadi anarkisme dan para aparat juga tidak ada yang represif terhadap mahasiswa yang sedang, menyampaikan pendapatnya atau menyampaikan aspirasinya. Nah, inilah yang harus, suasana yang harus dibangun dalam rangka bahwa bagaimana agar kualitas demokrasi kita makin baik.

Nah, terkait soal apa yang dituntut hari ini, terutama yang disampaikan oleh (presenter, red)  tadi bahwa soal efisiensi, sebenarnya saya ingin menegaskan bahwa jauh sebelum ada penyampaian aspirasi terkait soal, pemborosan anggaran, terkait soal efisiensi, sebetulnya Presiden Prabowo semenjak dilantik ya pada Oktober yang lalu, telah menginstruksikan kepada Kementerian, lembaga begitu pun kepada para daerah, baik di tingkat dua maupun di tingkat provinsi, agar dilakukan penghematan anggaran. (*)