Dalam sebuah wawancara di Berita Satu, dimana Jubir Partai Gerindra, Bahtra Banong diminta pendapatnya soal beberapa permasalahan nasional termasuk diantaranya dana transfer ke daerah.
“Terkait dengan dana transfer, kami ini menegaskan bahwa kami bersama Kemendagri, dimana setiap penyusunan APBD itu memang selama ini dilakukan pendampingan oleh Kemendagri, dan setelah dilakukan pendampingan, memang banyak sekali program-program, kerja yang tidak semestinya, terus kemudian itulah yang diplototin oleh pemerintah pusat,” ungkapnya.
Akhirnya, bahwa begitu dipotong dana transfernya, terus kemudian, diplototin program kerjanya, ternyata bisa dilakukan efisiensi, dan memang banyak yang tidak tepat sasaran. Jadi faktanya seperti itu.
Jadi banyak sekali daerah menyusun program kerjanya, tentu melalui APBD ditemukan fakta-fakta bahwa memang perlu tidak efesien. Nah inilah yang diperbaiki, bahwa memang ada daerah yang ketergantungan TKD-nya sangat besar sama pemerintah pusat, tetapi itu juga akan dicarikan solusi, tidak serta-merta dipotong begitu saja.
“Nah, itulah yang terus dilakukan oleh pemerintah pusat, ya, bahwa dalam penyusunan APBD, baik itu kabupaten / kota begitupun provinsi. Kalau kita benar-benar menyusun mana yang menjadi prioritas, yang mana yang tidak perlu, maka insya Allah pasti akan sebenarnya tidak jadi problem,” urainya.
Untungnya Presiden telah melakukan antisipasi. “Coba seandainya Pak Prabowo tidak melakukan efisiensi di sejak awal pemerintahan. Lalu tiba-tiba situasi global yang melanda kita, seperti hari ini, bagaimana geopolitik, bagaimana geoekonomi, maka saya akan memastikan bahwa mungkin akan lebih parah lagi,” terangnya.
Nah, maka dari itu perlu disyukuri, punya pemimpin seperti Prabowo yang punya visi atau bacaannya ke depan lebih maju sehingga bisa memprediksi situasi-situasi itu.
“Karena jauh-jauh sebelumnya Pak Prabowo sudah mengatakan bakalan ada perang Teluk, yang kemudian kita tidak melakukan efisiensi sejak awal, maka itu akan lebih memperparah situasi kita,” sambungnya,
Kemudian, memang tantangannya tidak mudah, karena tantangan-tantangan yang dihadapi adalah bukan hanya faktor internal, tapi faktor eksternal juga yang begitu kuat. “Kita tahu bahwa situasi global yang tidak pasti ini, itu semualah yang mempengaruhi, sehingga bangsa kita kan tidak berdiri sendiri. Insya Allah pemerintah bekerja sekuat tenaga, untuk kemudian menyelesaikan masalah satu per satu,” katanya.
Bahtra mencontoh, coba agak flashback sedikit, beberapa hari yang lalu, banyak sekali yang mengkritik terkait soal pelemahan rupiah, terus kemudian bagaimana IHSG, merosot jauh, “dan alhamdulillah, ya, beberapa hari ini dengan perbaikan-perbaikan yang tentu dilakukan oleh pemerintah, akhirnya apa yang kita lihat bahwa hasilnya juga maksimal, seperti nilai tukar kita juga sudah jauh di bawah Rp 18.000,” nilainya.








0 comments:
Posting Komentar