Dalam Talkshow Prime Plus CNN Indonesia dengan Tema ‘Mahasiswa
Bergerak, Pemerintah Diminta Merespon Tuntutan’ yang dipandu oleh Herlambang,
dimana seiring menghangat demonstrasi-demonstrasi yang terjadi di beberapa
kota, maka sejumlah narasumber yang hadir diantaranya adalah Fatimah Az-zahra
(perwakilan mahasiswa), Ahman Irawan -
Anggota DPR-RI / Fraksi Golkar,
Feri Amsari (Pakar Hukum Tata Negara), Agus Baskoro (Direktur
Eksekutif Trias Politika Strategis),
Anugrah Prahasta :Kepala RND Transmedia Sosial, serta
Bahtra Banoing (Jubir Partai Gerindra), pada canal https://www.youtube.com/live/klZTekHNFF8
Dimana ditanya bagaimana sikap Presiden terhadap tuntutan
mahasiswa yang semakin memanas ini, maka Bahtra Banong memberikan penjelasan
diantaranya adalah pada sikap saling menghormati perbedaan pandangan
masing-masing pihak, baik yang berada pada posisi pemerintah dan legislative,
maupun pada akademisi, mahasiswa dan lainnya.
“Partai Gerindra yang kebetulan Ketua Umum kami juga
Presiden Prabowo Subianto, tentu kami menghormati, menghargai setiap pendapat, penyampaian
aspirasi, baik itu dari teman-teman atau adik-adik mahasiswa, begitu pun berbagai
kelompok elemen. “ simpatinya.
Ia mengakui bahwa penghargaan itu tetap dalam bingkai demokrasi.
“Artinya setiap menyampaikan pendapat di muka umum itu diperbolehkan, dan
diatur oleh undang-undang. Dan itu juga menurut hemat kami, bahwa menjadikan
bahwa ini dalam rangka agar bisa mengontrol program-program pemerintah supaya
bisa lebihtepat sasaran lagi, supaya bisa lebih jangkauannya lebih tepat, esuai
dengan apa yang dimau oleh Presiden Prabowo, yang juga kemauan rakyat,”
ungkapnya.
Ditanya, yang dimau Presiden atau apa yang dibutuhkan
masyarakat sebetulnya dalam hidup?. “Ya, tentu Pak Presiden bekerja untuk
kepentingan masyarakat. Jadi Pak Prabowo kan konsisten, jauh sebelum jadi presiden, beliau juga selalu
mengingatkan kepada kami, kader-kader Gerindra agar bekerja untuk dan kepada Masyarakat,”
lanjutnya.
“Jadi pikir itu sesuatu yang yang baik ya,” serunya.
Lalu, :kami berterima
kasih kepada mahasiswa, itu adalah bentuk kecintaan mahasiswa terhadap
pemerintah. Dan saya pikir kita juga pernah jadi mahasiswa, dan ketika kita
juga mahasiswa pasti melakukan hal yang sama, untuk kemudian terus mengingatkan
pemerintah agar di jalur yang benar, di rel yang benar, sehingga betul-betul
kita bisa pantau program kerja pemerintah tersebut,” terangnya.
Oke, berarti artinya masukan kritikan dari teman-teman
mahasiswa menjadi rasional hari ini untuk segala program unggulan Pak Prabowo?
Iya, bahwa kemudian, eh, masukan dari berbagai pihak ya, tentu kan, eh, kalau
kita berbeda pandangan, ini kan negara kita negara demokrasi, bahwa perbeda
pandangan itu ya sesuatu yang, eh, lumrah saya pikir ya, dan itu adalah sesuatu
keniscayaan. Artinya kita boleh berbeda pandangan, berbeda pendapat, tetapi
juga kan, eh, de- kualitas demokrasi kita juga harus makin baik, dan itu
dibuktikan oleh teman-teman mahasiswa. Misalnya hari ini tidak ada yang, apa
namanya, anarkis, begitu pun aparat kita ya, saya lihat juga makin, makin
persuasif dan tidak ada yang melakukan, eh, tindakan represif te- terhadap, apa
namanya, mahasiswa kita. Nah, itu, itu dulu yang patut kita syukuri, bahwa di
sana ada pertentangan pandangan, ada pertentangan pendapat, eh, ya silakan
berbeda pendapat, silakan berbeda pandangan, dan tentu juga itu akan menambah,
apa namanya, kualitas demokrasi kita juga makin baik.
Oke, saya ingin dalam medisi. Dan pemerintah juga tentu ya,
dalam menjalankan program kerjanya tentu juga punya alasan-alasan. Terus
kemudian misalnya Pak Prabowo punya program, program strategis nasional seperti
yang kita lihat hari ini, misalnya, eh, program, eh, makan, eh, bergizi, eh,
gratis. Karena kan kalau kita lihat ya ini adalah program yang sangat baik,
sangat bagus, sangat mulia, ya, betul-betul Pak Prabowo ingin bagaimana meni
tidak hanya meningkatkan gizi anak-anak kita, tidak hanya meningkatkan gizi
generasi kita, tapi di sana juga bagaimana memperbaiki kualitas sumber daya
manusia kita. Oke, saya masuk ke situ, Bang. Jadi kalau kemudian kritik soal
MBG itu dianggap berbeda pandangan saja, beda cara pandang saja, atau kemudian
memang harus ada yang diperbaiki tata kelolanya?
BGN dan MBG
Berikut penjelasanya Angogta DPR-RI Dapil Sultra, Bahtra
Banong yang ditulis secara tutur.
Berdasarkan fakta-fakta, realita, bahwa harus ada yang
diperbaiki di sana, saya pikir juga pemerintah tidak menutup mata. Dan faktanya
hari ini, dan berdasarkan kritikan
teman-teman hari ini, termasuk juga mungkin Bang Feri (Feri Amsari, red) yang
sering senantiasa mengingatkan pemerintah.
Pak Presiden juga tidak buta dengan kritikan, tidak anti
dengan kritikan. Berdasarkan masukan dari publik, masyarakat, begitu pun dengan
DPR. Itu juga menjadi alasan beliau (Presiden, red) misalnya melakukan
pencopotan terhadap kepala BGN atau pimpinan BGN.
Jadi saya pikir penting ya, saling memberi masukan, memberi
kritikan, dan kalau itu dianggap, ob- objektif, rasional, tentu juga pemerintah
tidak akan buta terhadap kritikan itu. Dan boleh jadi, itu juga bisa dijadikan
alasan kemudian pemerintah mengambil kebijakan.
Dan faktanya hari ini ya, kita lihat Pak Prabowo, seringkali
misalnya mengundang para tokoh-tokoh kita yang dianggap punya pengalaman, yang
dianggap punya para profesional, baik yang seirama dengan pemerintah, begitu
pun tokoh-tokoh kita yang kita anggap kritis. Misalnya terakhir kita lihat
misalnya Pak JK (Jusuf Kalla, red), ya selama ini kan Pak JK kritis, dan kritik
terhadap pemerintahan, terutama di wilayah ekonomi. Tetapi kemudian Pak JK berdiskusi
dengan Pak Presiden terkait soal ekonomi.
Bayangkan misalnya, sekarang hampir 30.000 dapur yang
berjalan, berapa banyak bahan baku yang dibutuhkan? Berapa banyak peternak kita
yang bisa hidup dari diambil dari bahan bakunya di situ? Berapa banyak petani
kita yang bisa diambil bahan bakunya di situ? Berapa banyak nelayan kita kalau yang
juga ikannya dari mereka.
Misalnya di kampung saya di Sulawesi Tenggara, karena kita
sebagian besar pulau-pulau di sana, lauknya sebagian besar diambil oleh
nelayan-nelayan kita, apakah itu tidak menghidupkan UMKM kita?
Dan inilah yang dikehendaki oleh Pak Prabowo dalam situasi
global yang tidak pasti ini. Kita pernah punya pengalaman bahwa begitu kita krisis
tahun '98, bukankah UMKM yang menyelamatkan kita? Maka dari itu, MBG ini tidak
bisa dilihat hanya satu perspektif saja.
MBG ini kalau berjalan dengan maksimal, selain bisa menopang
pertumbuhan ekonomi daerah, dia juga bisa menopang pertumbuhan ekonomi
nasional.
Berarti kalau dihentikan, mudhorotnya akan lebih banyak,
menurut Gerindra?
Perspektif kami, ya, bahwa MBG ini manfaatnya sangat banyak.
Mohon maaf, saya mau cerita sedikit. Singkat. Ke adik-adik mahasiswa. Mungkin,
mungkin beliau karena tinggal di kota, ya. Kami yang tinggal di kampung
Sulawesi Tenggara sana, di pulau sana, bayangkan, adik-adik kita berangkat ke
sekolah menggunakan perahu. Tanpa mereka makan (sarapan, red), mereka sampai di
sekolah dalam kondisi perut lapar. Mana mungkin mereka bisa belajar dengan
baik?
Mana mungkin mereka bisa berkonsentrasi di sekolah kalau
berangkat ke sekolah dalam kondisi lapar? Mungkin iya bagi orang-orang kota
tidak ada masalah, tapi bagi kami, orang-orang yang di kampung, yang di pelosok
sana, sangat membutuhkan program MBG ini.
Kemudian, karena tidak pernah ada dalam sejarah anak-anak
kita diberi makan. Misalnya kita lihat, di daerah-daerah pelosok, banyak sekali
anak-anak kita yang tidak mampu. Belum lagi kita bicara baru satu program, ya,
kita bicara MBG, belum kita bicara soal bagaimana sekolah rakyat. (*)