Selamat Datang di Pusat Literasi Jejak-Jejak Kinerja Bahtra Banong

Selasa, 16 Juni 2026

Bhatra : "Pak Prabowo Kompromi, Mengundang Tokoh-Tokoh Nasional untuk Dialog"

Dalam Talkshow Prime Plus CNN Indonesia dengan Tema ‘Mahasiswa Bergerak, Pemerintah Diminta Merespon Tuntutan’ yang dipandu oleh Herlambang, dimana seiring menghangat demonstrasi-demonstrasi yang terjadi di beberapa kota, maka sejumlah narasumber yang hadir diantaranya adalah Fatimah Az-zahra (perwakilan mahasiswa),  Ahman Irawan - Anggota DPR-RI / Fraksi Golkar,

Feri Amsari (Pakar Hukum Tata Negara), Agus Baskoro (Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis),

Anugrah Prahasta :Kepala RND Transmedia Sosial, serta Bahtra Banoing (Jubir Partai Gerindra), pada canal https://www.youtube.com/live/klZTekHNFF8

Dimana ditanya bagaimana sikap Presiden terhadap tuntutan mahasiswa yang semakin memanas ini, maka Bahtra Banong memberikan penjelasan diantaranya adalah pada sikap saling menghormati perbedaan pandangan masing-masing pihak, baik yang berada pada posisi pemerintah dan legislative, maupun pada akademisi, mahasiswa dan lainnya.

“Partai Gerindra yang kebetulan Ketua Umum kami juga Presiden Prabowo Subianto, tentu kami menghormati, menghargai setiap pendapat, penyampaian aspirasi, baik itu dari teman-teman atau adik-adik mahasiswa, begitu pun berbagai kelompok elemen. “ simpatinya.

Ia mengakui bahwa penghargaan itu tetap dalam bingkai demokrasi. “Artinya setiap menyampaikan pendapat di muka umum itu diperbolehkan, dan diatur oleh undang-undang. Dan itu juga menurut hemat kami, bahwa menjadikan bahwa ini dalam rangka agar bisa mengontrol program-program pemerintah supaya bisa lebihtepat sasaran lagi, supaya bisa lebih jangkauannya lebih tepat, esuai dengan apa yang dimau oleh Presiden Prabowo, yang juga kemauan rakyat,” ungkapnya.

Ditanya, yang dimau Presiden atau apa yang dibutuhkan masyarakat sebetulnya dalam hidup?. “Ya, tentu Pak Presiden bekerja untuk kepentingan masyarakat. Jadi Pak Prabowo kan konsisten,  jauh sebelum jadi presiden, beliau juga selalu mengingatkan kepada kami, kader-kader Gerindra agar bekerja untuk dan kepada Masyarakat,” lanjutnya.

“Jadi pikir itu sesuatu yang yang baik ya,” serunya.

 Lalu, :kami berterima kasih kepada mahasiswa, itu adalah bentuk kecintaan mahasiswa terhadap pemerintah. Dan saya pikir kita juga pernah jadi mahasiswa, dan ketika kita juga mahasiswa pasti melakukan hal yang sama, untuk kemudian terus mengingatkan pemerintah agar di jalur yang benar, di rel yang benar, sehingga betul-betul kita bisa pantau program kerja pemerintah tersebut,” terangnya.

Oke, berarti artinya masukan kritikan dari teman-teman mahasiswa menjadi rasional hari ini untuk segala program unggulan Pak Prabowo? Iya, bahwa kemudian, eh, masukan dari berbagai pihak ya, tentu kan, eh, kalau kita berbeda pandangan, ini kan negara kita negara demokrasi, bahwa perbeda pandangan itu ya sesuatu yang, eh, lumrah saya pikir ya, dan itu adalah sesuatu keniscayaan. Artinya kita boleh berbeda pandangan, berbeda pendapat, tetapi juga kan, eh, de- kualitas demokrasi kita juga harus makin baik, dan itu dibuktikan oleh teman-teman mahasiswa. Misalnya hari ini tidak ada yang, apa namanya, anarkis, begitu pun aparat kita ya, saya lihat juga makin, makin persuasif dan tidak ada yang melakukan, eh, tindakan represif te- terhadap, apa namanya, mahasiswa kita. Nah, itu, itu dulu yang patut kita syukuri, bahwa di sana ada pertentangan pandangan, ada pertentangan pendapat, eh, ya silakan berbeda pendapat, silakan berbeda pandangan, dan tentu juga itu akan menambah, apa namanya, kualitas demokrasi kita juga makin baik.

Oke, saya ingin dalam medisi. Dan pemerintah juga tentu ya, dalam menjalankan program kerjanya tentu juga punya alasan-alasan. Terus kemudian misalnya Pak Prabowo punya program, program strategis nasional seperti yang kita lihat hari ini, misalnya, eh, program, eh, makan, eh, bergizi, eh, gratis. Karena kan kalau kita lihat ya ini adalah program yang sangat baik, sangat bagus, sangat mulia, ya, betul-betul Pak Prabowo ingin bagaimana meni tidak hanya meningkatkan gizi anak-anak kita, tidak hanya meningkatkan gizi generasi kita, tapi di sana juga bagaimana memperbaiki kualitas sumber daya manusia kita. Oke, saya masuk ke situ, Bang. Jadi kalau kemudian kritik soal MBG itu dianggap berbeda pandangan saja, beda cara pandang saja, atau kemudian memang harus ada yang diperbaiki tata kelolanya?

BGN dan MBG

Berikut penjelasanya Angogta DPR-RI Dapil Sultra, Bahtra Banong yang ditulis secara tutur.


Berdasarkan fakta-fakta, realita, bahwa harus ada yang diperbaiki di sana, saya pikir juga pemerintah tidak menutup mata. Dan faktanya hari ini,  dan berdasarkan kritikan teman-teman hari ini, termasuk juga mungkin Bang Feri (Feri Amsari, red) yang sering senantiasa mengingatkan pemerintah.

Pak Presiden juga tidak buta dengan kritikan, tidak anti dengan kritikan. Berdasarkan masukan dari publik, masyarakat, begitu pun dengan DPR. Itu juga menjadi alasan beliau (Presiden, red) misalnya melakukan pencopotan terhadap kepala BGN atau pimpinan BGN.

Jadi saya pikir penting ya, saling memberi masukan, memberi kritikan, dan kalau itu dianggap, ob- objektif, rasional, tentu juga pemerintah tidak akan buta terhadap kritikan itu. Dan boleh jadi, itu juga bisa dijadikan alasan kemudian pemerintah mengambil kebijakan.

Dan faktanya hari ini ya, kita lihat Pak Prabowo, seringkali misalnya mengundang para tokoh-tokoh kita yang dianggap punya pengalaman, yang dianggap punya para profesional, baik yang seirama dengan pemerintah, begitu pun tokoh-tokoh kita yang kita anggap kritis. Misalnya terakhir kita lihat misalnya Pak JK (Jusuf Kalla, red), ya selama ini kan Pak JK kritis, dan kritik terhadap pemerintahan, terutama di wilayah ekonomi. Tetapi kemudian Pak JK berdiskusi dengan Pak Presiden terkait soal ekonomi.

Bayangkan misalnya, sekarang hampir 30.000 dapur yang berjalan, berapa banyak bahan baku yang dibutuhkan? Berapa banyak peternak kita yang bisa hidup dari diambil dari bahan bakunya di situ? Berapa banyak petani kita yang bisa diambil bahan bakunya di situ? Berapa banyak nelayan kita kalau yang juga ikannya dari mereka.

Misalnya di kampung saya di Sulawesi Tenggara, karena kita sebagian besar pulau-pulau di sana, lauknya sebagian besar diambil oleh nelayan-nelayan kita, apakah itu tidak menghidupkan UMKM kita?

Dan inilah yang dikehendaki oleh Pak Prabowo dalam situasi global yang tidak pasti ini. Kita pernah punya pengalaman bahwa begitu kita krisis tahun '98, bukankah UMKM yang menyelamatkan kita? Maka dari itu, MBG ini tidak bisa dilihat hanya satu perspektif saja.

MBG ini kalau berjalan dengan maksimal, selain bisa menopang pertumbuhan ekonomi daerah, dia juga bisa menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Berarti kalau dihentikan, mudhorotnya akan lebih banyak, menurut Gerindra?

Perspektif kami, ya, bahwa MBG ini manfaatnya sangat banyak. Mohon maaf, saya mau cerita sedikit. Singkat. Ke adik-adik mahasiswa. Mungkin, mungkin beliau karena tinggal di kota, ya. Kami yang tinggal di kampung Sulawesi Tenggara sana, di pulau sana, bayangkan, adik-adik kita berangkat ke sekolah menggunakan perahu. Tanpa mereka makan (sarapan, red), mereka sampai di sekolah dalam kondisi perut lapar. Mana mungkin mereka bisa belajar dengan baik?

Mana mungkin mereka bisa berkonsentrasi di sekolah kalau berangkat ke sekolah dalam kondisi lapar? Mungkin iya bagi orang-orang kota tidak ada masalah, tapi bagi kami, orang-orang yang di kampung, yang di pelosok sana, sangat membutuhkan program MBG ini.

Kemudian, karena tidak pernah ada dalam sejarah anak-anak kita diberi makan. Misalnya kita lihat, di daerah-daerah pelosok, banyak sekali anak-anak kita yang tidak mampu. Belum lagi kita bicara baru satu program, ya, kita bicara MBG, belum kita bicara soal bagaimana sekolah rakyat. (*)

0 comments:

Posting Komentar